Fawaid-2 Dauroh_Lombok | Syaikh Prof. Dr. Shalih Sindi | Fathu Rabbil Bariyyah

Posted by: Admin istrator | on 04 September 2019

Fawaid-2 Dauroh_Lombok | Syaikh Prof. Dr. Shalih Sindi | Fathu Rabbil Bariyyah

Fawaid-2 Dauroh_Lombok

Syaikh Prof. Dr. Shalih Sindi

Fathu Rabbil Bariyyah

???? *Nasehat Mendalam Syaikh Prof. Dr. Shalih Sindi di Pembukaan Dauroh*
------------------

???? Ada Dua Amanah yang harus diemban dan ditunaikan oleh seorang penuntut ilmu sekaligus dai ke jalan Allah;
1. Amanatu at-tahammul; menuntut dan mengemban ilmu. 
2. Amanatu al-adaa'; menunaikan hak ilmu, yaitu diamalkan dan didakwahkan. 

???? Wajib menunaikan dua amanah ini. Banyak yang menelantarkan keduanya, ada yang menelantarkan salah satunya. Mereka yang diberi taufik adalah mereka yang menunaikan keduanya. 

???? Tahammul, adalah daya tahan memikul beban ilmu, terus mencari dan menambah ilmu yang shahih. Ini tidak berhenti selepas kuliah. Tidak berakhir dengan diraihnya ijazah master atau doktor. Menuntut ilmu adalah ibadah. Dan tak ada batas akhir bagi ibadah selain kematian. 

(Syaikh mengatakan):

فمن ظن أنه قد بلغ الغاية في العلم فلا حاجة من التزود فاعلم أنه الآن قد بلغ قمة الجهل

_"Siapa yang menyangka dirinya sudah mencapai puncak keilmuan, tidak butuh lagi untuk menuntut ilmu, maka ketahuilah, sejatinya dia sekarang telah sampai dipuncak kejahilan"_

Semakin melangkah demi mencari dan mendalami ilmu, engkau akan semakin merasa butuh kepada ilmu. Imam Syafi'i mengatakan;

كلما أدبني الدهر ... أراني نقصَ عقلي
وإذا ما ازددت علماً... زادني علماً بجهلي

_Semakin lama waktu bergulir mendidikku ... semakin ia memperlihatkan padaku kekurangan akalku_

_Semakin aku menambah ilmu ... semakin aku berilmu tentang kebodohanku._

Hendaknya penuntut ilmu dan dai menjadikan ungkapan Imam Ahmad ini sebagai syiarnya sepanjang hayat;

مع المحبرة إلى المقبرة
"...bersama wadah tinta pena, sampai liang kubur (menuntut ilmu ini, tak ada putusnya selama hayat dikandung badan)".

???? Pencarian akan ilmu ini haruslah menemukan tanah yang baik. Jika tidak, maka sejatinya engkau tengah menanam di tanah yang tak mampu menumbuhkan tumbuhan dan buah. Ilmu itu, sebagaimana ungkapan Imam Malik:

العلم لا يأنس إلا بقلب تقي خاشع

_"ilmu tidak akan menetap tentram kecuali di hati yang bertakwa dan khusyu'"_

Inilah maksud teragung dari ilmu; yaitu sampai pada tazkiyah (hati yang suci). 

???? ilmu bukanlah hafalan yang banyak atau mutqin dalam berbagai masalah ilmiah, bukan pula penjabaran berjilid-jilid Kitab, bukan semata menghadiri Dauroh demi Dauroh. Ini semua adalah wasilah atau sarana untuk menuju maksud teragung dari ilmu, yaitu sampai pada tazkiyah qalb (kesucian hati) dan tahqiiq 'ubudiyyah (terealisasinya penghambaan dan peribadatan hanya kepada Allah). Inilah hakikat ilmu. 

???? Selanjutnya tahammul ini harus diimbangi dengan adaa', yaitu; penunaian hak ilmu, dengan mengamalkannya, dengan dakwah, dengan mengajarkannya pada orang lain. Sebagian orang ada yang bermalas-malasan dalam hal ini. Lemah dalam amal, tidak mau menyebarkan ilmu, dengan alasan; sibuk menuntut ilmu. Dia biarkan manusia dalam kejahilan, sementara dia diam tak bergerak. 

Kedua amanah di atas harus berjalan bersama. Harus seimbang antara; ilmu dan ta'lim (mengajarkan ilmu). 

???? Realita di mana kita hidup saat, benar-benar butuh perjuangan besar kita, dalam menyampaikan ilmu yang haq, dengan dakwah;

كونوا أنصار الله

_"Jadilah penolong-penolong agama Allah (dengan mengamalkannya dan menyebarkannya)"_

Harus ada rasa cemburu di hatimu saat kehormatan Allah ternodai. Harus ada pengagungan pada Allah di hatimu, ketika haq Allah dilalaikan. Dan haq Allah adalah; 
--disebut nama-Nya dan diingat, tidak dilupakan
--diabadahi tanpa ada sekutu, tidak ditinggal
--disyukuri, tidak dikufuri. 

???? Ilmu itu ajaib. Bisa jadi sebab kebahagianmu, bisa jadi sebab kesengsaraanmu. Hanya dengan menunaikan dua amanah di atas, yaitu ilmu dan amal/dakwah, ilmu bisa menjadi sebab kebahagiaan. Sebaliknya, ia hanya akan menjadi sebab petaka. Rasul bersabda;

إن الله يرفع بهذا الكتاب أقواما ويضع به آخرين

_" Sungguh Allah akan mengangkat derajat beberapa kaum dengan al-Quran ini, dan akan menghinakan sebagian yang lain juga dengannya"_

???? (Syaikh kemudian mengatakan)

اجعل شعارك في هذه الحياة؛ أن حياتك لله
_Jadikanlah slogan dan mottomu di kehidupan ini; "hidupmu hanya untuk Allah"_

قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ

_Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, *hidupku* dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam,_ -Sura Al-An'am: 162.

Beri garis bawah pada kalimat محياي. Hidupmu untuk Allah. Pagi dan senjamu, tidur dan jagamu, duduk dan berdirimu, seluruh aktivitasmu, jadikan karena Allah dan untuk Allah semata. Tetaplah di atas perintah Allah dalam hidupmu. Berjihadlah dengan sebenar-benar jihad; dengan menunaikan amanah tahammul dan adaa'. 

???? Dan Demi Rabb langit dan bumi, sebesar-besar jihad di zaman ini, adalah jihad dengan ilmu. 

???? Bersungguh-sungguh lah yaa ikhwataah. Jika engkau berjuang, berkorban demi dakwah, Allah Maha Bersyukur, Dia akan menerima amalmu, menyambutmu, Dia akan menolongmu, memudahkan jalan perjuanganmu;

(فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ وَٱتَّقَىٰ). (وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ). (فَسَنُیَسِّرُهُۥ لِلۡیُسۡرَىٰ)
_Maka barangsiapa memberi (berjuang dan berkorban di jalan Allah) dan bertakwa. dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (surga). Maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan)._ [QS. al-Lail: 5-7]

???? Bersungguh-sungguhlah. Perbaiki niat dan tujuanmu. Sampaikanlah ilmu. Ajarkan pada manusia. 

???? Jadikanlah dakwahmu, dakwah yang berkah. Semua orang mendapatkan manfaat darinya. Yang tua, maupun yang muda. Yang pria, yang wanita. Yang jauh, maupun yang dekat. Yang berilmu, yang awam. Yang Sunni, yang mubtadi'. Semuanya mendapatkan manfaat dan keberkahan dari dakwahmu. 

???? Lalu bersungguh-sungguhlah agar engkau menjadi panutan, imam, di atas kebenaran.

وَٱجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِينَ إِمَامًا

_"...dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”_ -Sura Al-Furqan: 74.

____
Lombok, 03 Muharram 1441 | 02-09-2019
 Abu Ziyan Johan Saputra Halim